.

Performa Induk Alam (F0) dan Induk Hasil Budidaya (F1)

 Tiram Mutiara
.

Insersi_1

PERFORMA INDUK ALAM (F0) DAN INDUK HASIL BUDIDAYA (F1) DALAM PRODUKSI SPAT TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima)

 

Oleh :

Aprisanto Dwi L.*), Wildan**), dan Suherlan AH***)

Abstrak

 

Kegiatan pembenihan tiram mutiara sangat dipengaruhi oleh ketersediaan induk yang matang gonad. Saat ini induk alam semakin lama semakin berkurang serta sulitnya didapatkan, dan harganya mahal. Hal ini diakibatkan karena maraknya penjualan kulit tiram hasil alam yang memiliki nilai jual yang tinggi untuk kerajinan sehingga berakibat menurunnya produksi benih.

Dibandingkan dengan induk alam, induk dari hasil budidaya ketersediaannya sangat melimpah, dan dapat menghasilkan telur atau sperma tanpa tergantung pada musim. Dari hasil pengkajian di Balai Budidaya Laut Lombok (2011), Induk hasil budidaya yang telah berumur lebih dari 3 tahun dan berukuran diatas 13 cm sudah matang gonad dan memungkinkan untuk dipijahkan.

Adapun tahapan proses pembenihan meliputi : seleksi tingkat kematangan gonad, pemijahan, penetasan, pemeliharaan larva, pemberian pakan, pemanenan. Dilihat dari daya tetas telur (HR), tingkat kelangsungan hidup (SR) larva dari hasil pemijahan mengguanakan induk hasil budidaya (F1) yang dikawinkan dengan induk alam (F0) menggambarkan bahwa induk hasil budidaya (F1) dapat digunakan untuk peningkatan produksi benih pada saat ketersediaan induk alam yang matang gonad terbatas.

 

Kata kunci : Tiram mutiara, pemijahan, induk hasil budidaya (F1), larva.

 

*)     Teknisi Litkayasa pada Balai Budidaya Laut Lombok.

**)   Pengawas Perikanan pada Balai Budidaya Laut Lombok.

 


REPRODUCTION PERFORMANCE OF WILD AND CULTIVATED BROODSTOCK OF PEARL OYSTER (Pinctada maxima)

by :

Aprisanto Dwi L.*), Wildan**), dan Suherlan AH***)

 

ABSTRACT

Pearl oyster breeding activity is regarded by mature broodstock avaibility. Now natural broodstocks are decreasing and hard to get, and its price is expensive. It is because of the exploitation of pearl oyster shell that has a high value as handycraft, so ensues on descent of seed production.

Compared to natural broodstocks, the avaibility of cultivated broodstocks are abundant, and produce egg or sperm without depend to season. From study result at Lombok Marine Aquaculture Development Center (2011), cultivated broodstock that have more than 3 years old and size 13 cm was mature already and enable for spawning.

The stages on breeding are: selection of gonade maturation, spawning, hatching, larva nursering, feeding, harvesting. Base on hatching rate (HR), survival rate (SR) of larva from cultivated broodstock (F1) that breed with natural broodstock (F0), show that cultivated broodstock (F1) can be use to increase seed production when avaibility of natural broodstocks were limited.

 

Keywords : Sea pearls, spawning, cultivated broodstock (F1), larvae.

 

*)     Technician at Balai Budidaya Laut Lombok.

**)   Fish culture evaluator at Balai Budidaya Laut Lombok.

 

 

 

  1. PENDAHULUAN

 

1.1       Latar belakang

Ketersediaan induk alam yang semakin lama semakin berkurang serta sulitnya didapatkan dan pastinya harga semakin mahal, karena maraknya penjualan kulit tiram hasil alam yang memiliki nilai jual yang tinggi untuk kerajinan sehingga berakibat menurunnya produksi benih.

Dibandingkan dengan induk alam, induk dari hasil budidaya ketersediaannya sangat melimpah, dan dapat menghasilkan telur atau sperma tanpa tergantung pada musim. Dari hasil pengkajian di Balai Budidaya Laut Lombok (2011), Induk hasil budidaya yang telah berumur lebih dari 3 tahun dan berukuran diatas 13 cm sudah matang gonad dan memungkinkan untuk di pijahkan. Sehingga untuk meningkatkan hasil produksi benih, induk hasil budidaya dapat dijadikan alternatif pendukung sehingga dapat menghasilkan benih secara berkelanjutan.

 

  • Tujuan

Mengetahui HR dan SR benih hasil pemijahan dari induk budidaya untuk peningkatan produksi benih tiram mutiara.

 

  1. METODOLOGI

 

2.1.      Waktu dan Tempat

Kegiatan ini dilakukan di Balai Budidaya Laut-Lombok, Sekotong, Lombok Barat, mulai tanggal 12 Juni sampai 31 Desember 2011 dengan 3 kali siklus produksi untuk kegiatan pembenihan dan dilanjutkan dengan kegiatan pendederannya.

2.2       Alat dan Bahan

            Peralatan yang di gunakan antara lain :

  1. Peralatan seleksi induk : Forsep, baji dan spatula
  2. Peralatan pemijahan induk : bak pemijahan, pemanas air/kompor, termometer, senter, pisau, forsep
  3. Peralatan pemeliharaan larva : bak pemeliharaan larva volume 3 ton, plankton net 40µ, 60 µ,80 µ,100 µ,150 µ,180 µ, 200 µ dan 250 µ. Slang spiral 1 inchi, ember penampung saringan, mikroskop, peralatan airasi, substrat kolektor
  4. Peralatan kultur pakan alami : toples 15 liter, peralatan sterilisasi, peralatan airasi
  5. Peralatan pendederan : Long line, pocket net, waring pembungkus pocket, peralatan pembersih tiram,speed boat

Bahan yang digunakan antara lain :

  1. Induk tiram mutiara Jantan dan betina hasil budidaya (F1) matang gonad umur lebih dari 3 tahun dan ukuran lebih dari 13 cm
  2. Induk jantan dan betina alam (F0) yang matang gonad
  3. Pakan alami jenis Nanno, isocreisis, pavlova, tetraselmis dan c. amami, simplek
  4. Pupuk

 

 

2.3       Metode

2.3.1    Seleksi Tingkat Kematangan Gonad

Seleksi kematangan gonad dilakukan setiap 1 bulan sekali untuk memastikan bahwa induk tersebut siap dipijahkan atau tidak. Seleksi dilakukan dengan cara membuka mantel bagian dalam dan akan terlihat pada bagian pangkal gonad apakah terdapat sperma atau sel telur. Sampling dilakukan dengan menggunakan baji, forshape, dan spatula. Pada induk betina akan terlihat berwarna kekuningan dan induk jantan akan terlihat berwarna putih susu.

2.3.2    Perlakuan pemijahan dengan induk yang berbeda

Siklus Induk jantan Induk betina
1 Induk hasil budidaya (F1) Induk hasil budidaya (F1)
2 Induk hasil budidaya (F1) Induk alam (F0)
3 Induk alam (F0) Induk hasil budidaya (F1)
4 Induk alam (F0) Induk alam (F0)

2.3.3    Teknik Rangsangan dan Pemijahan

Teknik yang dipergunakan untuk merangsang pemijahan tiram mutiara adalah metode kejut suhu (thermal shock). Induk ditempatkan dalam pocket keranjang dan direndam di dalam box Styrofoam I yang berisi pakan berupa campuran fitoplankton. Volume fitoplankton dan air laut dalam box Styrofoam adalah 1:1. Suhu Styrofoam I adalah 23 oC, sedangkan suhu awal styrofoam II adalah 28 oC.kemudian Suhu Styrofoam II ditingkatkan sampai 32 0C-33 0C dengan cara memasukkan air laut panas, jika pemijahan secara alami tidak dapat dilakukan. Adapun suhu air media penetasan dalam bak fiber 3 ton dibiarkan dalam suhu ruang, yaitu 28 0C.Pemijahan dilakukan dengan cara memindah induk dalam pocket keranjang dari Styrofoam I ke styrofoam II sampai keluar sperma sama sel telur. Selanjutnya dipindahkan ke bak fiber 3 ton.

  • Pemanenan larva

Setelah induk tiram berhenti memijah, induk tersebut dipindahkan dari bak penetasan ke dalam styrofoam dan selanjutnya dipelihara di rakit apung maupun long line. Adapun telur-telur yang dihasilkan dibiarkan terbuahi terlebih dahulu di dalam bak fiber. Segera setelah proses pemijahan berhenti dipasang aerasi satu titik. Hal ini dilakukan agar peluang terjadinya pembuahan lebih besar. Setelah telur menetas selama kurang lebih 20 jam, kemudian disaring dengan menggunakan saringan ukuran 40 dan 60 mikron.dan dipindahkan ke bak pemeliharaan larva dengan volume 3 ton.

2.3.5    Pemeliharaan Larva

  1. a) Pemberian pakan

Larva mulai diberi pakan setelah mencapai fase D-Shape (D1). Pakan yang diberikan berupa fitoplankton jenis Isochrysis galbana, Chaetocheros gracillis, dan Nannoclhoropsis sp.. Setelah mencapai fase umbo 3, pakan yang diberikan ditambah dengan fitoplankton jenis Nitzchia sp. dan Tetraselmis chuii. Dilakukan pengamatan terhadap larva dengan mikroskop sebelum dan 4 jam sesudah larva diberi pakan. Hal ini bertujuan untuk melihat kondisi larva, terutama isi perut.

Fitoplankton yang diberikan berumur 4-5 hari. Larva diberi pakan sehari sekali, yaitu pada pagi hari jam 10.00. Pakan yang akan diberikan terlebih dahulu disaring dengan planktonet 10µ, kemudian ditampung dalam toples 15 liter. Di dalam toples tersebut kombinasi pakan yang akan diberikan dicampurkan. Setelah itu, pakan diambil dengan menggunakan teko berskala dan dimasukkan secara merata ke dalam bak pemeliharaan larva sesuai dengan jumlah pakan yang akan diberikan.

  1. b) Pengelolaan kualitas air

Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara mengganti air secara total 3-4 hari sekali. Selain penggantian secara total juga dilakukan penyiponan pada dasar bak dengan tujuan larva yang kurang sehat yang mengendap pada dasar bak tidak tercampur dengan larva yang sehat.. Air yang akan diganti disedot dengan menggunakan selang spiral 1 inchi secara bertahap dengan cara mengambil larva yang ada di permukaan air terlebih dahulu. Larva yang berada di atas cenderung lebih sehat, jika dibandingkan dengan larva yang berada di dasar.

Saringan yang digunakan disesuaikan dengan ukuran larva. Yakni mulai dari 40 mikron, 80 mikron, 100 mikron, 120 mikron, 150 mikron, 180 mikron, 200 mikron, dan 250 mikron. Setelah larva tersaring, larva kemudian dimasukkan ke dalam bak 3 ton yang terisi air baru. Penggantian air ini dilakukan sampai larva siap menempel yakni masuk pada fase plantygrade dengan ukuran larva kurang lebih 200 – 250 mikron.

 

2.3.6    Pemeliharaan Spat

Setelah melewati fase plantigrade, larva akan tumbuh menjadi spat. Mulai dari penetasan sampai mencapai fase plantygrade tingkat kelangsungan hidup larva sanagt kecil yakni mencapai 5 – 10 %. Beberapa factor yang mempengaruhi SR adalah sebagai berikut: Tingkat kematangan induk, perlakuan saat pemijahan, kualitas pakan, dan kualitas air media pemeliharaan itu sendiri. Adapun parameter kualitas air yang media pemeliharaan yang baik sebagai berikut :

Pada fase peralihan yakni fase plantygrade menjadi spat, sifat hidupnya akan cenderung menempel pada substrat. Oleh karena itu, larva yang mulai tumbuh menjadi spat harus diberikan substrat agar tidak menempel pada bak pemeliharaan. Substrat yang digunakan biasanya terbuat dari tali PE atau orcid net dengan kerapatan 80-90%.

 

 

  • HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1       Daya tetas telur (HR)

Tabel 1. Performa pemijahan induk hasil budidaya (F1)

 

Siklus

Jumlah induk Jumlah telur (butir) Perkembangan larva Daya tetas telur

(%)

Jantan Betina Hari ke Jumlah (ekor)
1 4 7 34.000.000 1 21.400.000 62
2 3 5 36.000.000 1 31.800.000 88
3 4 9 27.000.000 1 18.200.000 67
Rata-rata 3,6 7 32.333.333 1 23.800.000 72,3

 

Sebagai kontrol data pemijahan dengan menggunakan induk alam yakni pada pemijahan bulan November tahun 2010 dengan menggunakn induk jantan alam 4 dan induk betina alam 8 yang menempel pada 500 lembar substrat kolektor dengan kepadatan adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Performa pemijahan induk alam (F0)

Jumlah Induk Jumlah Telur

( Butir )

Data Perkembangan Larva Ket
Hari (ke-) Jumlah Larva

( Ekor )

8 betina dan 4 jantan 42.000.000 1

 

40.200.000

 

HR :95 %

 

 

Sumber data primer (2010)

 

Dilihat dari data daya tetas telur (HR) diatas dapat di ketahui bahwa hasil pemijahan dengan menggunakan induk alam (F0) dengan induk alam (F0) yang dapat menghasilkan (HR) paling tinggi. Akan tetapi kendala yang di hadapi ketersediaannya semakin terbatas serta tingkat kematangannya dipengaruhi musim. Sebagai alternatifnya menggunakan induk hasil budidaya (F1) jantan yang disilangkan dengan induk alam (F0) betina yang hasilnya hampir sama dengan perkawinan induk alam.

3.2       Tingkat kelangsungan hidup (SR) larva

Siklus 1 produksi benih pada pemijahan bulan Juni dengan menggunakan induk Hasil budidaya yang menempel pada 105 lembar kolektor dengan SR sebagai berikut :

Tabel 3. Performa perkembangan larva siklus 1

Jumlah Induk Jumlah Telur

( Butir )

Data Perkembangan Larva Ket
Hari (ke-) Jumlah Larva

( Ekor )

 

 

 

 

7 betina dan

4 jantan

34.000.000 1

5

8

11

14

17

20

23

27

40

21.400.000

20.680.000

12.800.000

9.800.000

4.500.000

1.400.000

33.200

21.500

HR : 62 %

 

 

 

 

 

 

 

SR akhir 0,10%

 

Untuk kegiatan pada siklus 2 yakni pemijahan pada bulan September dengan induk jantan hasil budidaya 3 ekor dan betina alam 5 ekor yang menempel pada 400 lembar substrat kolektor adalah sebagai berikut :

 

Tabel 4. Performa perkembangan larva siklus 2

Jumlah Induk Jumlah Telur

( Butir )

Data Perkembangan Larva Ket
Hari (ke-) Jumlah Larva

( Ekor )

 

 

 

 

5 betina dan 3 jantan

 

36.000.000 1

5

8

11

14

17

20

23

27

40

 

31.800.000

28.000.000

26.400.000

18.600.000

14.000.000

9.200.000

98,800

81.400

HR :86 %

 

 

 

 

 

 

 

 

SR akhir 0,25%

 

Untuk kegiatan pada siklus ke 3 yakni pemijahan pada bulan November dengan menggunakan induk jantan alam 4 ekor dan induk betina hasil budidaya 9 ekor yang menempel pada 200 lembar substrat kolektor dengan kepadatan adalah sebagai berikut :

 

 

Tabel 5. Performa perkembangan larva siklus 3

Jumlah Induk Jumlah Telur

( Butir )

Data Perkembangan Larva Ket
Hari (ke-) Jumlah Larva

( Ekor )

 

 

 

 

9 betina dan 4 jantan

 

27.000.000 1

5

8

11

14

17

23

27

40

 

18.200.000

16.400.000

12.700.000

6.200.000

1.280.000

40.000

28.800

HR :67 %

 

 

 

 

 

 

 

SR akhir 0,15%

Sumber : Data primer 2011

 

Sebagai kontrol data pemijahan dengan menggunakan induk alam yakni pada pemijahan bulan November tahun 2010 dengan menggunakn induk jantan alam 4 dan induk betina alam 8 yang menempel pada 500 lembar substrat kolektor dengan kepadatan adalah sebagai berikut :

 

Jumlah Induk Jumlah Telur

( Butir )

Data Perkembangan Larva Ket
Hari (ke-) Jumlah Larva

( Ekor )

8 betina dan 4 jantan

 

42.000.000 1

5

8

11

14

17

23

27

40

40.200.000

39.400.000

17.100.000

7.100.000

2.800.000

960.000

176.000

HR :95 %

 

 

 

 

 

 

 

SR:0,43%

Sumber data primer (2010)

 

Dilihat dari data tingkat kelangsungan hidupan (SR) dari masing – masing siklus produksi dengan memanfaatkan induk hasil budidaya, yang paling tinggi adalah pemijahan antara induk jantan hasil budidaya (F1) dengan induk betina alam.

 

 

 

 

 

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

 

  • Kesimpulan
  1. Daya tetas telur (HR) siklus 1 : 62 %, siklus`2 : 88 %, dan siklus 3 : 67 %
  2. Survival rate (SR) siklus 1 : 0,10 %, siklus 2 : 0,25 % dan siklus 3 : 0,15 %
  3. Performa (HR) dan (SR) dari ketiga siklus perkawinan antara induk jantan hasil budidaya (F1) dengan induk alam (F0) lebih tinggi dan hampir sama dengan performa pemijahan antara induk alam (F0)

4.2       Saran

            Pemanfaatan induk hasil budidaya dapat dilakukan untuk peningkatan produksi benih tiram mutiara terutama pada saat ketersediaan induk alam terbatas.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Mulyanto, S. 1987. Teknik Budidaya Laut Tiram mutiara di Indonesia. Diktat Ahli Usaha Perikanan Jakarta. 69 hlm.

 

Raswin dan Ayodhyoa, 1972. Budidaya Tiram. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen pertanian, Jakarta.

 

Balai Budidaya Laut Lombok, 2011 Petunjuk teknis Budidaya Mutiara ( pinctada maxima ) Teknik Pembenihan, Pendederan dan insersi

 

Sujoko. 2010. Membenihkan Kerang Mutiara. Yogyakarta : Insania.

 

.

Author: 

One Response

  1. Mr WordPressMarch 10, 2016 at 2:24 pmReply

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in and view the post's comments. There you will have the option to edit or delete them.

Leave a Reply